Debby Namanya

abharto, 2019-03-04 09:51:53

Lokasi penambangan seringkali diibaratkan sebagai lokasi yang keras. Gambaran daerah panas, tandus, berdebu saat terik, becek licin jalannya dengan udara lembab dengan aroma logam berat. Partikel logam berat bak bergembira menyerbu udara bebas tepat ketika bongkahan tanah dibuka, seolah telah beribu tahun debu penuh sesak ini ingin segera menari ke udara melepaskan himpitan tanah di atasnya.

Kehidupan disekitarnya seolah amat sangat menjanjikan masa depan terbaik bagi para pekerja keras. Risiko tinggi bahkan tak henti-henti menyapa mereka yang mencoba untuk menyentuh atmosfir penuh logam ini. Bukan hanya kepiawaian namun juga kecepatan, kadang melebihi batas awas seorang manusia untuk tidak berbuat salah. 

Tahun Sembilan Dua, kuputuskan untuk terjun memulai hidup sebagai seorang buruh tambang. Benar, tidak ada arena bermain seperti saat kita kecil, semua serasa berbeda dan harus dihadapi dengan serius. Udara panas disertai hembusan terik matahari, membuatku tidak mudah lagi tersenyum lembut seperti yang diajarkan nenek moyangku. Wajahku mencetak bentuk bibir dan mulut mencibir seperti seorang musyafir yang telah lama tidak bertemu rintik hujan. Panas, haus, penat, letih..

Namun bukan kehidupan namanya jika tanpa campur tangan Allah. Diantara bebatuan hitam asam, seorang wanita Allah datangkan dari bagian timur negeri ini. Suaranya nan merdu kala itu memecah keheningan senja setiap dia mengudara. Tak pelak banyak yang bertanya-tanya siapakah gerangan sosok wanita ini? Namanyapun pelan tapi pasti makin menyeruak menjadi banyak dikenal, si Jangkung Debby namanya.

Hanya radio amatir satu-satunya media paling cepat dan efektif kala itu untuk menjangkaunya. Layanan Kantor Pos masih kalah cepat karena musti nunggu menginapkan surat-menyurat sebelum harus sampai ke tujuan. Radio amatir tanpa basa-basi telah memberi jalan sehingga suaraku dan suaranya bisa saling balas bergantian di udara.

Debby, kapan kita bisa bertemu? Begitu kuucapkan berlatih berkali-kali hingga saat yang tepat kalimat itu bisa meluncur di radio. Alhamdulillah, dia mengiyakan untuk disapa saat nanti dia akan membawa jalan-jalan keponakannya. Wow, ternyata Debby lebih menawan dari yang kusangkakan. Badannya yang tegap dan berbentuk, selaras dengan cerita yang pernah disampaikannya bahwa dia adalah seorang atlit dayung PON. Keren..

Debby, debby.. debby.. mulutku sudah menjadi terbiasa menyebutnya bahkan pada saat sedang sendiri menggumam di tempat kerja. Rasa ini semakin ingin untuk memilikinya, tatkala dia juga bilang, wah kalo Mas masih sendiri biar saya saja yang merawat Mas, kalimatnya tajam tepat menusuk jantungku..

Alhamdulillah, tulisan ini kubuat agar kenangan indah ini tak mudah luntur dimakan usia. Biar anak dan cucuku tahu bahwa cinta dari Bapak-Ibu atau Kakek-neneknya ini memiliki sejarah panjang, yang tidak mudah meretas putus namun bahkan mengeras membatu dan menyatu menjadi candi. Terima kasih mama, sudah menemani, menjaga dan merawat Papa dan anak-anak. Tiada bentuk apapun yang dapat menggantikan kasih sayang mama kepada kami. I love you mama.